meditasi itu sederhana

6/4/2026

tubuhnya tersandar lunglai bergantung pada bangku plastik tua di beranda.
badannya tak berisi daya layaknya tadi pagi.
pandangan jatuh layu menatap halaman kecil rumah.

benaknya menuntut berbisik pelan, “halaman perlu disapu.”
tak sekarang, “pagi nanti”, malas rasanya.
angin sore lembut berhembus menyapu jawabannya.

matahari mulai terbenam menerangi pohon mangga mungil yang baru sebulan ditanam.
“ah, mulai banyak daunnya”, senyum kecil terbersit ringan.

matahari sore memeluk hangat.
rasa malas masih meliputi, menghalang untuk pergi.

tangan menjemput secangkir kopi hitam, mengepul kecil kehangatan mengangkat aroma.
berderik meja ketika berpisah cangkir, tak mengganggu, hanya suara.
kopi hangat membasuh lidah.
“pas rasanya, seperti biasa,” berlalu rasa.
diletakkannya, berderik, berlalu suara.

cekikikan putrinya menyelinap lewat celah jendela kayu bercat kuning tua.
mirip langit sore ini warnanya.
“ah, uang buku putriku, dari mana mendapatkannya?”.
menjelajah pikirannya, seakan mencari jawaban keresahannya.
yang ini tak cepat pergi, menetap ia dalam pikirannya.

terhempas dari lamunannya.
matahari ternyata telah menyelesaikan perannya.
kini pindar bohlam kecil menggantikan tempatnya.

“ketahui,” teringat kata sang bijaksana.
ia tersenyum, “ah, aku lupa!”
melangkah kaki diiringi perhatian, berhati-hati.
untuk pergi mandi.

-- j’sen